Breaking News
Loading...

ALUR CERITA NARUTO GAIDEN CHAPTER 04 Versi Teks ~ ~

08:25:00
ALUR CERITA NARUTO GAIDEN CHAPTER 04 Versi Teks ~ ~
JUDUL "Kesempatan Bertemu Bagian Kedua..!!"
STATUS : RELEASED!

Selamat membaca...

Di chapter sebelumnya, seorang pria berjubah misterius dengan mata sharingan hasil transpalasi menyuruh seorang bocah uchiha untuk menangkap anak sasuke, sepertinya dia menyimpan dendam pada Sasuke dan menganggap Sasuke telah mencoreng nama baik Uchiha.

Di sisi lain, sarada dan Chochou yang akan mengantarkan bekal makan siang untuk Naruto dihadang oleh seorang bocah bermata sharingan yang bernama Uchiha Shin. Pertarungan tidak bisa dielakkan. Sarada dan Chouchou yang terdesak akhirnya ditolong oleh Naruto.
Naruto berada di depan Sarada dan Chouchou.

"Hokage ke Tujuh datang menyelamatkan kita. Bahkan untuk orang seperti kita. Dia....." Chouchou berucap dengan malu-malu.
"Maaf, tetapi aku secepatnya pergi kesini. Karena banyak hal yang ingin aku tanyakan." ucap Naruto.
Shin yang sempat terpental sebelumnya memandangi Naruto dengan ekspresi wajah kesal, marah. Memperlihatkan sharingannya yang terus aktif.
Sarada yang melihatnya hanya bisa terdiam.

"Ah... Aku paham." tambah Naruto.
'Syuuuut... Syuutt'

Mengejutkan! Sharingan di mata Shin berubah menjadi Mangekyou Sharingan.
Naruto tak boleh meremehkannya, walaupun dia bocah, diusianya yang sekarang dia sudah mampu membangkitkan Mangekyou sehingga dia mulai menggunakan chakra Kyuubi yang menyelimutinya.

"Kalau begitu.. Aku harus mengambil cara pintas."
Shin mulai menunjukkan keahliannya, dari Mangekyou Sharingan Shin keluar senjata Ninja, semacam serpihan-serpihan tajam.

WUSSSSH......

 Serpihan-serpihan itu melayang, menyerang Naruto dan kedua gadis kecil Konoha itu dari belakang.
BAM.. BAM.. BAM..

Lengan-lengan chakra Naruto memblok serpihan-serpihan itu. Menyelamatkan kedua gadis kecil itu dan dirinya sendiri.
Sarada dan Chochou hanya bisa tercengang. Sementara Shin tampak marah karena gagal mengenai mereka bertiga.

Dari dalam diri Naruto, Kurama berucap.
"Naruto, apakah kau akan pergi bertarung lagi setelah sekian lama?"
"Hanya sebentar kok." jawab Naruto.

Jubah chakra kini telah menyelimuti tubuhnya, dibelakangnya terdapat 9 ekor yang sudah berubah menjadi lengan-lengan chakra. Dia meluncurkan lengan chakra kearah Shin.
Shin berhasil menghindarinya dengan melompat keatas sebuah gerbang, mirip Tori.

"Untuk saat ini, itu adalah cara menghindar yang bagus. Kau hebat!" puji Naruto.
Shin masih tak berucap apa-apa. Matanya masih terus terfokus.
"Uwahh~ Hokage ke tujuh benar-benar luar biasa. Kerenn!!" Choucho terkagum-kagum.

'HOOPP'

Makhluk seperti miniatur Juubi dengan Sharingan itu tiba-tiba sudah berada di belakang Shin.

"Mundurlah Shin. Untuk saat ini kau tidak bisa menghadapinya sendirian."

Shin melirik mahkluk itu. Sekejap, dari mata mahkluk itu timbul sebuah pusaran. Mirip dengan Kamuinya Obito Uchiha.

'Dia bahkan memiliki ninjutsu ruang dan waktu (Jikukan Ninjutsu).' batin Naruto.
Sementara Naruto membatin mereka, pusaran itu semakin membesar dan menyedot Shin. Shin dan Makhluk kecil itupun lenyap bersama pusarannya yang semakin mengecil.

Mereka bertiga tercengang, berdiri di depan Tori. Tempat Shin dan makhluk kecil itu lenyap. Jubah chakra masih menyelimuti tubuh Naruto.
Bekal makan siangnya!!

Sarada mengambil Bekal makan siang yang dititipkan Boruto untuk ayahnya itu. Sementara Sarada mengambil Bekal makan siangnya.. Choucho berucap.

"Jadi sepertinya.. Apakah Hokage Ketujuh adalah ayahku yang sesungguhnya?" .
"Huuh?! Bagaimana bisa?" jawab Naruto.
"Aku mengatakan jika itu bukanlah hal yang tidak mungkin." lanjut Chouchou.
"Yang kau maksud itu sebenarnya apa?" Naruto bingung.
"Sebenarnya aku tidak yakin soal itu jadi aku ingin melakukan perjalananku tapi... Orang itu menyerang gadis-gadis macam kami. Jadi apa yang harus kami lakukan?" Ekspresi wajah Chochou terlihat aneh.
"Hah! Aku pikir yang jadi targetnya adalah Sarada. Bukan kau chouchou!" Jawab Naruto, Sarada terlihat ketakutan.
"...... Si-siapa orang itu? Dan kenapa harus aku?"

Naruto berpikir, mimik mukanya terlihat buruk.
'PAAAT'

Naruto menaruh tangannya di kepala Sarada.
"Tidak ada hal yang perlu kau khawatirkan. Aku akan melindungimu dan menyelesaikan semuanya." Naruto menenangkan Sarada.

Sarada terpaku, menatap Naruto. Naruto kemudian tersenyum begitupula dengan Sarada. Sepertinya dia merasakan suatu kehangatan seorang ayah yang tak pernah dirasakan sebelumnya.

"Walaupun dengan bunshin, kalian berdua tidak bisa kembali ke desa, lebih aman jika kalian berdua bersamaku, bersama diriku yang asli." kata Naruto.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Chouchou.
"Sekarang ini, aku akan pergi ke menara di atas punggung bukit. Jadi kalian akan menemaniku kesana. Selain itu aku ingin agar Sarada juga bisa bertemu dengan Ayahnya." ujar Naruto.
Sarada terkejut, hal yang dia inginkan akhirnya terpenuhi. Dia sepertinya bahagia.
"Huaa!! Jadi kita pergi untuk menemui ayah Sarada? Perjalanan ini seharusnya untuk menemukan ayahku." Protes Chouchou.
Naruto tidak paham maksud Chouchou. 'Chouji! Memangnya dia kemana?' Batin Naruto.
"Seperti apakah ayah Sarada? Aku belum pernah melihatnya sama sekali." tanya Couchou.
"Daripada aku yang mengatakannya, lebih baik jika sarada saja yang menjelaskannya." Jawab Naruto.
Sarada sepertinya gugup. "A-aku tidak bisa." jawab Sarada.
"???!!" Naruto dan Choucou kaget.
"Karena aku tidak ingat." lanjut Sarada.
'Benar! Karena dia jauh, dan terus melakukan perjalanan selamanya.' Batin Naruto, merasa iba dengan Sarada.
"Ya! Cukup! Biar aku yang menjelaskannya." sahut Naruto kemudian.
"Aku adalah orang yang bertanya tentang itu, tapi aku lebih prihatin pada perutku yang lapar." Chouchou memegangi perutnya.
Sarada yang memegang Bekal makan siang untuk Naruto kemudian menyodorkannya Bekal makan siangnya.
"Oh benar juga ya.. Ini! " katanya.

Naruto yang melihatnya menjadi teringat saat Tim 7 masih kecil, ketika mereka mengikuti Ujian Genin, saat Naruto diikat dan dia kelaparan orang tua sarada memberikan makanan padanya.
'Bekal makan siang dari Boruto ya? Terimakasih Boruto.'
"Ehehhehe..!! Terimakasih ya! Maaf merepotkan." kata Naruto seraya menerima bekal makan siang itu.

Mereka bertiga kemudian makan siang, sambil makan siang mereka berbincang-bincang.

" Eh.. Tuan Hokage Ketujuh. " kata Sarada.
"Cukup Hokage Ketujuh saja. Tidak perlu memanggil Tuan. Ada apa?" jawab Naruto.
"Bukannya tadi kau akan menjelaskan ayahku itu seperti apa?"
"Oh iya! Baiklah akan aku jelaskan, dia adalah laki-laki yang yang populer di kalangan gadis-gadis di kelas Akademi sama seperti aku. Dia juga tampan seperti aku. Dan yang paling penting adalah kemampuan Ninjutsunya yang terbaik di akademi, seperti aku. Begitulah riwayatnya."
" 'Paling...' Itu kan seharusnya hanya berlaku untuk satu orang? Bukankah itu aneh?" potong Chouchou.
Sarada tersenyum malu.
"Tapi dia tidak pandai bersosialisasi dan perkataannya itu selalu buruk.. Benar-benar tidak seperti aku."

Mendengar perkataan Naruto ekspresi wajah sarada menjadi suram.

"Maksudku..." Naruto merasa bersalah. "Dia adalah Rivalku, dan tak akan pernah berubah!"
Sarada kembali memperhatikan Naruto disampingnya.
"Sarada... Waktu aku melihatmu tadi,kau sangat mengingatkanku pada Sasuke saat kami masih kecil dulu... Sasuke tidak pakai kacamata tapi kau sangat mirip dengannya, terutama bagian mata, apalagi kalau kau sudah punya Sharingan." ucap Naruto.
"Tapi kepribadianmu persis seperti Sakura... Pasti kau mengerikan saat marah." tambah Naruto sambil tersenyum lebar, melihat itu Sarada juga ikut tersenyum.
"Chouchou, wajahmu memang sangat mirip dengan Karui, tapi badamu lebih mirip Chouji saat dia seusiamu!" Naruto kini bicara pada Chouchou disamping kanannya.
Sementara Sarada masih memperhatikan Naruto yang kini sedang berbicara dengan Chouchou. 'Saat aku bersama Hokage Ketujuh seprti ini, aku merasa sangat aman.' batin Sarada.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, berlari melewati air terjun, kemudian berhenti lagi untuk istirahat minum.

Mereka terus bergerak menuju lokasi pertemuan dengan Sasuke, namun kemudian Chouchou mengeluh. "Aku sudah tak kuat lagi. Ayo kita istirahat." Chouchou menaruh tasnya diatas bebatuan.
Chouchou sudah duduk sementara yang lain masih berdiri.
"Aku kira tak ada pilihan lain, baiklah.. kita istirahat sebentar." kata Naruto.
"Menaranya sudah dekat lho." sahut Sarada.
"Tidak apa-apa Sarada, aku akan menemani kalian." kata Naruto.
"Baiklah."
Latar memperlihatkan sebuah menara ditengah hutan yang gundul. Menara yang mirip dengan Pagoda. Mereka sudah berada di dekatnya.
"Aku ingin buang air." kata Sarada.
"Baiklah, tapi jangan pergi terlalu jauh." perintah Naruto.
Sarada meluncur pergi, dia tidak mengindahkan perkataan Naruto. Dia nekat kemenara itu sendirian.
"Hanya sedikit lebih jauh lalu akhirnya aku bisa bertemu dengan ayahku."

Sarada membayangkan kalau dia akan memeluk ayahnya, dia kemudian menangis. "Papa!" ucapnya, saat dia membayangkan dan mengucapkan kata 'Papa' itu, emosinya membuat mata Sharingannya perlahan-lahan mulai bangkit dan terlihat.

Sarada tiba di pintu masuk menara itu, menara yang pintunya berhiaskan gambar tomoe di keempat sisinya. Sarada masuk dan jongkok di depan tiang besar.

Di dalam menara itu rupanya benar-benar ada Sasuke yang sedang duduk menunggu. Dia bangun lalu menghampiri Sarada, dan Sarada kemudian benar-benar membangkitkan 1 tomoe Sharingannya. Sarada menatap Sasuke, sementara Sasuke memejamkan matanya.

"Papa..." ucap Sarada, ia menangis terharu dapat menemui ayahnya.
Mata Sasuke yang tadi terpejam sekarang sudah membuka, memperlihatkan Sharingan dengan 3 tomoe. Kemudian dia berkata. "Jadi kau berhasil menemukan tempat ini ya." ucap Sasuke.
Namun tak seindah yang Sarada bayangkan. "Apa kau teman penjahat itu." Sarada mendapatkan perkataan itu dari ayahnya, sambil menghunuskan katana kearah Sarada, ayahnya merasa tak kenal dengan dirinya, anak orang yang berada di hadapannya saat ini. Pertemuan mereka berubah menjadi mimpi buruk.


--- Bersambung ke Naruto Gaiden Chapter 5 ---
Electronic money exchanger
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Buat Yang Mau Komentar , Tolong Komentar Sesuai Topik Postingan Dan Jangan Membuat Komentar Spam.

 
Toggle Footer